Pemerintah Kabupaten Kubu Raya memperkuat peran Kader Pembangunan Manusia (KPM) desa dalam pencegahan stunting. Langkah itu dilakukan melalui kegiatan peningkatan kapasitas KPM Desa se-Kabupaten Kubu Raya Tahun 2026 di Aula Kantor Bupati Kubu Raya, Rabu, 14 Oktober 2026.
Kader diharapkan lebih mampu mengenali keluarga yang berisiko, mendata sasaran, dan memantau pemenuhan layanan kesehatan ibu serta anak. Mereka juga berperan menyampaikan edukasi mengenai kecukupan asupan gizi bagi balita. Pemerintah daerah menilai pendampingan di tingkat desa penting agar upaya pencegahan dapat menjangkau keluarga yang membutuhkan.
Data Dinas Kesehatan Kabupaten Kubu Raya pada 2026 menunjukkan 3.446 balita mengalami stunting dari 36.797 balita yang telah diukur. Jumlah itu setara prevalensi 9,4 persen. Angka di sembilan kecamatan tidak merata, sehingga kebutuhan pencegahan dan penanganan di setiap wilayah perlu diperhatikan secara berbeda.
Prevalensi tertinggi tercatat di Kecamatan Sungai Ambawang, yakni 19,6 persen. Teluk Pakedai berada pada angka 14 persen dan Batu Ampar 10,6 persen, sedangkan Sungai Raya mencatat 6,6 persen. Perbedaan tersebut menjadi salah satu dasar bagi pemerintah dan kader untuk menyesuaikan perhatian terhadap masing-masing wilayah.
Selain meningkatkan kapasitas kader, pemerintah desa didorong memanfaatkan dukungan anggaran. Pada 2026, anggaran penanganan stunting melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDes) tersebar di 123 desa, dengan total Rp6.124.161.400. Dukungan itu tercatat dalam berbagai bidang kegiatan desa sesuai ketentuan, meliputi penyelenggaraan pemerintahan, pembangunan, pembinaan kemasyarakatan, pemberdayaan masyarakat, dan komponen belanja lainnya.
KPM membantu memastikan keluarga sasaran memperoleh informasi serta akses ke layanan yang diperlukan. Namun, pendataan saja tidak cukup. Pemerintah kabupaten, pemerintah desa, tenaga kesehatan, kader, dan masyarakat perlu terlibat secara berkesinambungan agar program berdampak pada keluarga penerima manfaat.
Pemerintah Kabupaten Kubu Raya berharap peningkatan kemampuan kader dan pemanfaatan anggaran desa yang optimal memperkuat pencegahan stunting. Intervensi yang disesuaikan dengan kondisi wilayah diharapkan mendukung kesehatan dan tumbuh kembang anak, sekaligus membuat pelayanan kepada keluarga berisiko lebih tepat sasaran.